• 0Jual beli
Pusat Pesanan

Jual Beli Terbaru 11 merek gadget, 527 model bisa dijual beli

Cari dan periksa harga gadget bekas anda

Beranda > Berita Terakhir Berita Terakhir

SMARTJUAL, USUNG SOCIAL ENTREPRENEURSHIP, ATASI ‘SAMPAH ELEKTRONIK’ DI INDONESIA

2016-06-24

Tak berkeinginan meraih keuntungan semata, tapi Smartjual juga ingin turut berkontribusi bagi upaya penanggulangan sampah elektronik secara online.

Kewirausahaan sosial atau social entrepreneurshipkini kian menyemarakkan semangat kewirausahaan di Indonesia. Selain menghasilkan profit, kewirausahaan sosial mampu memberikan dampak sosial yang nyata terhadap masyarakat Indonesia.

Visi dan spirit inilah yang tercermin pada keberadaan startup Smartjual.com, yang mulai beroperasi pada 1 Nopember 2015 lalu. Dalam perspektif Nico Viersander Komanyo, Founder dan Smartjual.com, latar belakang berdirinya startup ini didasarkan kenyataan bahwa saat ini, pertumbuhan pasar ponsel di Indonesia setiap tahun meningkat.


Hampir semua brand ataupun pabrikan ponsel berlomba-lomba menciptakan produk baru, tanpa pernah memikirkan kemana pengguna menyalurkan ponsel bekas yang sudah tidak terpakai lagi. Kondisi demikian, menurut Nico, lama-kelamaan membuat ponsel bekas itu akan menjadi ‘sampah elektronik’ yang berpotensi merusak lingkungan.

Berkisah kepada Hitsss, maka berangkat dari keprihatinan itu, Nico dan rekan tim lainnya seperti Ryan, Herman, Teguh, Orizha, Iqbal, Haris, Iman dan Olivia, menciptakan satu wadah untuk mengumpulkan gawai bekas tersebut. Maka kemudian, lahirlah Smartjual.com.

Saat ini, perusahaan rintisannya fokus pada ponsel bekas. Namun tidak menutup kemungkinan, jika bisnis ini berkembang baik akan dilanjutkan ke produk elektronik lainnya seperti laptop, komputer, kamera dan sebagainya.

“Kami ingin nantinya Smartjual bisa menjadi solusi penanggulangan sampah elektronik secara online (the e-waste C2B ecommerce solution), guna menciptakan Indonesia yang bebas sampah elektronik,” jelas Nico, kelahiran Bukittingi, 14 Desember 1986.

Untuk lebih memperkuat keberadaan Smartjual di masyarakat luas, berbagai program sudah dilakukan. Sebut saja, program “Tukar Sampah menjadi Rupiah”.

Di program ini, siapapun bisa menjual e-waste, yakni gawai bekas atau ‘jadul’ atau rusak, ke Smartjual. Ponsel monophonic/polyphonic dihargai Rp 10.000 per satuan, dan untuk ponsel Android atau Blackberry yang rusak berat, dihargai Rp 20.000 per satuan.

Program ini juga dilakukan secara offline. Salah satunya dengan membuka stan di perusahaan dan gedung perkantoran, sambil mengedukasi agar masyarakat turut menyalurkan gawai bekasnya ke stan Smartjual.com.

Lalu sejauh mana minat dan antusiasme masyarakat luas? Menurut Nico, masyarakat yang sudah mengetahui Smartjual, lengkap dengan proses bisnisnya, kebanyakan sangat tertarik. Pasalnya, di satu sisi mereka terbantu dalam menjual gawai dget bekas, proses cepat, di-pick-up secara gratis, pembayaran langsung dan keamanan data dijaga.

Kemudian di sisi lain, mereka termotivasi dan bangga karena dengan menyalurkan gawai bekas ke Smartjual, artinya sudah turut berpartisipasi mengurangi keberadaan sampah elektronik di tanah air.


Tak kurang 346 buah gawai yang sudah di-pick upSmartjual, dari data yang ada selama lima bulan per 1 Nopember 2015 hingga 30 April 2016. Untuk gawai bekas yang masih mempunyai nilai ekonomis tinggi, akan diperbaiki kembali, kemudian disalurkan ke pengguna baru.

Sementara gawai yang mempunyai nilai ekonomis rendah (e-waste), akan disalurkan ke perusahaan pengolah limbah elektronik, setelah mendapatkan proses QC (quality control) dari teknisi Smartjual

Saat ini, Smartjual terus berkiprah memberi solusi untuk mengurangi sampah elektronik di Indonesia, dan bertekad membantu program pemerintah untuk mewujudkan Indonesia bebas sampah di tahun 2020.

Untuk itu, menurut Nico, “Kami membutuhkan dukungan pemerintah bahwa Smarjual adalah wadah untuk mengumpulkan sampah elektronik, baik itu dukungan di media online ataupun media offline. Hal ini agar kami bisa melakukan gerak percepatan secara lincah, mudah dan cepat dalam penerapan berbagai program seperti ‘Tukar sampah menjadi Rupiah’, ataupun program lain yang lebih mengedukasi kesadaran masyarakat. Untuk pentingnya mengatasi sampah elektronik di Indonesia,” papar Nico, seraya menutup obrolan. (NH/DI)


sumber

X 切换城市